Selasa, 29 Desember 2020

SOCIAL LEARNING: Martin Seligman dan Walter Mischel

 

Adnan Askuri

19310410060

Dosen Pengampu : FX Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A


    Martin Seligman lahir pada 12 Agustus 1942, di Albany, New York. Setelah lulus SMA, ia kuliah di Universitas Princeton di mana ia memperoleh gelar A.B. gelar pada tahun 1964. Pada tahun 1967, ia memperoleh gelar Ph.D. dalam psikologi dari University of Pennsylvania. Dan Walter Mischel  Lahir di Wina, Austria pada 22 Februari 1930. Bersama kakaknya Teodore awalnya jadi filsuf tumbuh di lingkungan kondusif tak jauh dari rumah Freud. Masa indahnya terenggut ketika Nazi menginvansi Austria pada 1938. Kemudian Mischel dan kelurganya pindah ke USA sampai akhirnya menetap di Broklyn sampai masa SD dan SMP-nya.

    Martin Seligman seorang tokoh yang mampu mengubah cara pandang dan cara berpikir para psikolog dunia. Martin Seligman terkenal dengan nama “Father Of Positive Psychology”. Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.Dalam penelitiannya di bidang pesimisme dan depresi ia menemukan dan memasukan ide baru yaitu optimisme. Depresi menurut Martin Seligman learned hardness yaitu ketika seseorang mengalami pengalaman negative. Hal tersebut seperti ketika dihadapkan dengan stress dan rasa kesakitan yang panjang, mereka akan lebih mungkin mengalami depresi. Depresi akan terjadi setelah suatu peristiwa negative dimana individu menjelaskan peristiwa tersebut dengan atribusi yang menyalahkan diri sendiri.Psikologi Positif Seligman berawal dari premis bahwa manusia itu pada dasarnya happy dan ilmu psikologi hadir sekedar untuk menguatkan perasaan positif itu.

    Mischel berpendapat bahwa faktor kognitif, seperti ekspektasi, persepasi subjektif, tujuan dan standard personal mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian. Manusia memiliki sejarah individual dan pengalaman yang unik, yang memberikan mereka jalan untuk menentukan tujuan-tujuan personalnya, tetapi juga memiliki kesamaan yang cukup di antara manusia untuk memberikan jalan pada konstruksi rumusan matematis yang apabila tersedia informasi yang cukup akan menunjukkan perilaku yang reliable dan akurat (Mischel, 1990), mengacu pada susunan luas informasi yang diperoleh manusia. Mischel setuju dengan Bandura bahwa manusia tidak bisa memahami semua stimulus hanya dapat mengkontruksi secara selektif atau membangkitkan versi kita mengetahui mengenai dunia nyata. Contoh: Seseorang mahasiswa yang berbakat mungkin percaya dia memiliki kompetensi bisa lulus, namun tak pernah tahu apa macam dan isi soalnya persis.

 

Refrensi :
http://etheses.uin-malang.ac.id/2262/5/09410026_Bab_2.pdf
Saradi, Sunedi. (2018). Psikologi Positif. Yogyakarta: Titah Surga. 
images :
https://www.youtube.com/watch?v=IHWHxL4ey8o (ScreenShot) 

 

THEORY SOCIAL LEARNING-Albert Bandura

 

Adnan Askuri

19310410060

Dosen Pengampu : FX Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A


    Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925, di Mundare suatu kota kecil di dataran utara Alberta Kanada. Ia memperoleh gelar sarjana psikologinya di University of British Columbia di Vancouver pada tahun 1949, dan gelar Ph. D di Iowa tahun 1952. Saat ini ia mengajar di Universitas Stanford (1953-sekarang), Albert Bandura mengembangkan suatu teori yaitu Social Learning Theory atau Teori Belajar Sosial. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam hal interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Orang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain, sikap, dan hasil dari perilaku tersebut.

    Manusia mempelajari sesuatu dengan cara meniru perilaku orang lain. Contohnya Kalau mau Pinter berenang kamu akan ngikutin gerakan tari orang yang jago renang. Sesimple itu. Teori belajar sosial menjelaskan manusia belajar dengan mengobservasi orang lain. Teori ini didasarkan pada fakta bahwa pengetahuan manusia didapat dari manusia lain. Dengan kata lain, apa yang kita tahu didasarkan oleh penjelasan yang diberikan orang lain pada kita. Bandura percaya pada determinisme timbal balik, yaitu lingkungan memang membentuk perilaku dan perilaku membentuk lingkungan, sedangkan behaviorisme dasarnya menyatakan bahwa lingkungan seseorang menyebabkan perilaku seseorang. Manusia tentu saja selalu belajar. Dalam hal ini, kita belajar dari orang lain.

STRUKTUR KEPRIBADIAN

Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan. Dengan kata lain, self diakui mengakui sebagai unsur struktur kepribadian. Reciprocal determinism menempatkan semua hal saling berinteraksi, dan dipusatnya atau sebagai pemulanya adalah sistem self. Sistem self itu bukan unsur psikis yang mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu ke struktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi dan pengaturan tingkah laku. Pengaruh self tidak otomatis atau mengatur tingkah laku secara otonom, tetapi self menjadi bagian dari sistem interaksi reciprocal.

Sistem self mengatur tingkah laku dengan terus menerus mengobservasi-diri, menilai diri, dan merespon diri. Ketiga sistem self yang diterapkan kepada diri sendiri ini menjadi bagian dan ikut mengembangkan pengalaman diri. Observasi diri: dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantitas penampilan, orisinalitas tingkah laku diri, dan seterusnya

Komponen kunci hasil terapan sistem self adalah self efficacy: persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus dir. dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Setiap orang memiliki keyakinan atau harapan mengena; kebiasaan dirinya, dan harapan hasil yang dapat diperolehnya, sebagai berikut:

1.         Efficacy Expectation: keyakinan kemampuan diri, bahwa diri dapat berhasil melaksanakan tingkah laku yang disyaratkan untuk mencapai hasil tertentu. Mahasiswa yang yakin dapat menge1akan tugas perkuliahan, dikatakan mempunyai efficacy expectation yang tinggi.

2.         Outcome Expectations: perkiraan/estimasi dan bahwa tingkah laku yang dilakukan din itu akan mencapai hasil tertentu. Mahasiswa, itu beranggapan tugasnya telah dikerjakan sempurna sehingga mengharapkan nilai A. Kalau harapannya itu sesuai dengan hasil pekerjaan yang dia lakukan dikatakan dia mempunyai outcome expectation yang realistik. Kalau ternyata hasil pekerjaannya buruk, berarti outcome expectationnya tidak realistik.

Orang yang harapan efikasinya tinggi percaya bahwa dia dapat mengerjakan sampai berhasil dan harapan hasilnya realistik memperkirakan hasil sesuai dengan kemampuan diri, orang itu akan bekeja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai selesai.

Perubahan tingkah laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi dari self-efficacy. Self efficacy kebiasaan diri itu dapat diubah melalui empat jenis pengalaman, yakni pengalaman berprestasi atau performansi terbaik performance accomplishment, pengalaman vikarius vicarious experience, saran verbal verbal persuasion dan pembangkitan emosi Emotional/Physiological information. Merubah harapan self-efficacy itu banyak dipakai untuk memperbaiki kesulitan dan adaptasi tingkah laku orang yang mengalami berbagai masalah behavioral.

 

Refrensi :

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Rosyidi, H. 2015. PSIKOLOGI KEPRIBADIAN (Paradigma Traits, Kognitif, Behavioristik dan Humanistik). Surabaya: JAUDAR PRESS

 

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI BANGUN DATAR MELALUI MEDIA INTERATIF BERBASIS APLIKASI CANVA UNTUK ANAK TUNAGRAHITA SEDANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengukuran Psikologi Dosen pengampuh: Taufik Muhtarom, M.Pd.,Ph.D  Disusun Oleh:  Alfanny zanusti A...